Kau menyembunyikanku seperti rahasia, tapi aku menyimpanmu seperti janji

   Awal aku bertemu dengannya, ada gejolak aneh dalam diriku. Bukan sesuatu yang langsung bisa dijelaskan, tetapi cukup kuat untuk membuatku sadar bahwa ini bukan perasaan biasa. Itu adalah cinta. Sejak saat itu, aku mencoba memahami peranku sendiri dan mencari cara agar perasaan ini tetap hidup tanpa membuatku kehilangan arah.

   Bagiku, dia bukan sekadar seseorang yang singgah. Dia adalah sebuah janji yang kusimpan diam-diam di bagian hati yang paling dalam. Janji yang tak pernah kuucapkan secara lantang, tetapi selalu kuhidupi. Isinya sederhana, namun berat: aku ingin menjadikannya milikku dan aku ingin menjadi miliknya, sepenuhnya dan untuk waktu yang lama.

  Mungkin keinginan itu terdengar egois. Namun yang paling menyakitkan bukanlah harapanku, melainkan sikapnya. Dia tak pernah benar-benar menggapaiku. Selalu ada jarak yang ia ciptakan, selalu ada keraguan yang ia pelihara. Ketakutannya untuk mengakui perasaannya sendiri perlahan menghancurkan janji yang selama ini hanya kujaga seorang diri.

    Aku sering bertanya dalam diam mengapa dia selalu takut.

   Dia menyimpanku seperti rahasia, bukan sebagai kepastian, apalagi kebanggaan. Bahkan orang-orang terdekatnya pun tak pernah tahu tentang keberadaanku. Jika harus jujur, menurutku bukan aku yang ia sembunyikan, melainkan kebingungannya sendiri. Seolah ia belum yakin pada perasaannya, tetapi juga belum siap untuk benar-benar melepasku.

   Aku sudah mencoba berbagai cara agar tetap setia pada perasaan ini. Aku bertahan, aku mengalah, dan aku menunggu. Namun pada akhirnya posisiku tetap sama, disimpan tanpa pernah benar-benar dipilih. Dia tak pernah melihatku lebih dalam, padahal aku sudah lebih dulu melihatnya sejauh itu.

    Sikapnya sering kali bertolak belakang. Ia bisa sangat ketus dan cuek, tidak ingin ada drama, tetapi di saat yang sama selalu menunjukkan kepedulian. Perhatian kecil itu justru membuat perasaanku semakin dalam dari hari ke hari. Harapan tumbuh pelan-pelan, sementara langkahku tertahan oleh sikapnya sendiri.

    Dia pandai berbicara dan pandai menyusun alasan, sedangkan aku semakin bingung harus bersikap seperti apa. Janji yang kupendam ini sudah terlalu lama tersimpan, dan aku mulai lelah menjadi satu-satunya yang menjaganya.

    Aku tahu semua ini menyakitkan dan aku sudah siap dengan rasa sakit itu. Namun jauh di dalam hati, aku tetap percaya ada perasaan yang sebenarnya sama-sama kami inginkan, yaitu keinginan untuk menjadi yang pertama bagi satu sama lain. Bukan yang disembunyikan, bukan yang diragukan, melainkan yang dipilih dengan berani.


- Kyuars, 2025.

Komentar

Postingan Populer